Sabtu, 19 Januari 2019

Filsafat Jiwa






Kiranya berguna jika kita membandingkan suatu perbedaan yang jelas antara alam mental dan alam fisik. Alam fisik di isi oleh objek-objek material yang menempati lokasi di dalam ruang dan memiliki sifat-sifat seperti perluasan, massa,muatan listrik dsb. Objek-objek ini tidak tetap,bisa bergerak,berubah,hancur dan mati mengikuti waktu. Alam fisik adalah alam publik yang bisa dilihat,didengar,dicium,dirasakan dengan lidah dan diraba. Sebaliknya alam mental tidak dihuni oleh objek-objek material tetapi oleh pemikiran. Pemikiran jelas tidak menempati ruang, terdapat pada alamnya sendiri yang merupakan alam pribadi yang tidak dapat di tembus oleh pengamatan. Pemikiran pun dapat berubah,berkembang,berinteraksi dan tidak akan mati meskipun tubuh yang ditempatinya mengalami kematian. Pembahasan ini merupakan kajian didalam bidang ilmu Psikologi.

Firman Allah :
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyuci- kan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yg mengotorinya” (QS As Syams 7-10).

Sejak manusia terlahir ke dunia, ia telah berinteraksi dengan lingkungannya terutama ibu. Pada tahap perkembangan selanjutnya ia pun mulai mengenal ayahnya dan terus mengenal orang lain dalam proses perkembangan sampai menginjak dewasa. Dalam setiap periode perkembangan itu, informasi-informasi yang diterima dari lingkungan membentuk pola pikir dan kepribadiannya sehingga ia pun mulai belajar tentang norma dan aturan, juga pemahamannya terhdap agama. Jika seseorang sepanjang hidupnya hanya menganggap bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini atau ia tahu tentang kehidupan setelah mati tapi mengabaikannya, maka akan terlihatlah pola perilaku yang tenang seperti cemas,was-was,marah,berburuk sangka,curiga dan      perasaan-perasaan buruk yang kadarnya sangat berlebihan.
Ketidaktenangan ini disebabkan oleh ketidakyakinannya terhadap kekuasaan Allah Swt, menganggap ada kekuatan lain selain kekuatanNya,mengabaikan syariatNya dan melakukan larangan-laranganNya, hingga tera- salah bagi diri seseorang kehidupan yang hampa dan tidak berarti,tidak tahu akan menuju kemana. Untuk me- ngatasi maka sebaiknya banyak-banyaklah mencari informasi baru melalui bacaan yang menjelaskan tentang kehidupan baik dari Al Quran,hadist dan ilmu pengetahuan lainnya,serta melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist. Dengan cara itu kita pun secara bertahap melakukan pembersihan jiwa,akal dan pikiran dari pemahaman yang salah atau keliru agar bisa kembali kepada Nya dengan hati yang tenang dan bukan dengan ketakutan.
Manusia yang tidak mengalami ketenangan jiwa mempengaruhi akal,pikiran dan badannya. Akalnya menjadi buntu karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan apabila timbul kegalauan,pikirannya lalu mempengaruhi emosi yang diwujudkan dalam kemarahan,kecemasan dan ketakutan tanpa alas an yang jelas. Badannya pun kemudian bereaksi yang ditandai dengan cepatnya peredaran darah akibat jantung yg berdebar, maka timbullah penyakit tubuh seperti hipertensi,diabetes dan gangguan jantung yang akhirnya mengakibatkan stroke atau kematian jika keadaan seperti itu terlalu sering terjadi tanpa ada usaha dari diri sendiri untuk mengatasinya.
Jiwa,akal dan pikiran akan berkembang secara bertahap mengikuti usia,pengaruh lingkungan dan pengala- man manusianya. Manusia akan mencapai titik kesadaran jika pengaruh-pengaruh dan informasi positif terus mengisi pemikirannya tanpa harus mempertahankan pandangan sebelumnya yang mungkin salah atau keliru. Namun jika pandangan sebelumnya itu ia pertahankan mati-matian,maka tidak berubahlah kepribadian dan pola perilakunya yang selalu membela ego dan hawa nafsu, karena peandangan sebelumnya telah mendarah daging sehingga sulit untuk melepaskan ikatannya.

Firman Allah:
“ Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul ,”mereka menjawab:“ Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak- bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”(QS Al Maidah 104)
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”(QS Al Hajj 46)

Sebagaimana diketahui keyakinan,pemahaman,pemikiran dan pandangan hidup atau ideologi, jika sudah menjadi kebiasaan lalu mendarah daging pada diri manusia, sulitlah baginya untuk merubah apa yang telah dipercayai dan diyakininya. Apabila yang diyakini itu jauh dari tuntunan Islam maka terlihatlah pola perilaku yang selalu memperturutkan hawa nafsu dan ego atau berlebih-lebihan dalam masalah agama, yang berakibat pada gangguan perasaan dan perilakuseperti cemas,antisosial,takut,marah,egois,curiga,iri,dengki,pendendam, hasut,sombong dan merasa paling suci yang mana kadar gangguan ini sangat berlebihan atau abnormal. Kita bisa melihat salah satu contoh tentang orang-orang yang memiliki amalan jin seperti mempunyai benda keramat yang berbentuk keris,batu akik,jimat,rajah dsb. Amalan yang seperti ini akan menyiksa diri apabila tidak dile- paskan, apalagi jika menjelang sakaratul maut yang disebabkan oleh tidak adanya orang yang ingin mewarisi amalannya. Maka dari itu berhati-hatilah dalam menuntut ilmu karena ilmu itu akan membentuk sikap dan peri-laku kita, untuk itu berpeganglah hanya kepada Al Quran dan Hadist sebagai pedoman dalam menuntut ilmu.