Kiranya berguna jika kita
membandingkan suatu perbedaan yang jelas antara alam mental dan alam fisik.
Alam fisik di isi oleh objek-objek material yang menempati lokasi di dalam
ruang dan memiliki sifat-sifat seperti perluasan, massa,muatan listrik dsb.
Objek-objek ini tidak tetap,bisa bergerak,berubah,hancur dan mati mengikuti
waktu. Alam fisik adalah alam publik yang bisa
dilihat,didengar,dicium,dirasakan dengan lidah dan diraba. Sebaliknya alam
mental tidak dihuni oleh objek-objek material tetapi oleh pemikiran. Pemikiran
jelas tidak menempati ruang, terdapat pada alamnya sendiri yang merupakan alam
pribadi yang tidak dapat di tembus oleh pengamatan. Pemikiran pun dapat
berubah,berkembang,berinteraksi dan tidak akan mati meskipun tubuh yang
ditempatinya mengalami kematian. Pembahasan ini merupakan kajian didalam bidang
ilmu Psikologi.
Firman
Allah :
“Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyuci- kan jiwa itu dan sesungguhnya
merugilah orang yg mengotorinya” (QS As Syams 7-10).
Sejak manusia terlahir ke dunia, ia
telah berinteraksi dengan lingkungannya terutama ibu. Pada tahap perkembangan
selanjutnya ia pun mulai mengenal ayahnya dan terus mengenal orang lain dalam
proses perkembangan sampai menginjak dewasa. Dalam setiap periode perkembangan
itu, informasi-informasi yang diterima dari lingkungan membentuk pola pikir dan
kepribadiannya sehingga ia pun mulai belajar tentang norma dan aturan, juga
pemahamannya terhdap agama. Jika seseorang sepanjang hidupnya hanya menganggap
bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini atau ia tahu tentang kehidupan setelah
mati tapi mengabaikannya, maka akan terlihatlah pola perilaku yang tenang
seperti cemas,was-was,marah,berburuk sangka,curiga dan perasaan-perasaan buruk yang kadarnya
sangat berlebihan.
Ketidaktenangan ini disebabkan oleh
ketidakyakinannya terhadap kekuasaan Allah Swt, menganggap ada kekuatan lain
selain kekuatanNya,mengabaikan syariatNya dan melakukan larangan-laranganNya,
hingga tera- salah bagi diri seseorang kehidupan yang hampa dan tidak
berarti,tidak tahu akan menuju kemana. Untuk me- ngatasi maka sebaiknya
banyak-banyaklah mencari informasi baru melalui bacaan yang menjelaskan tentang
kehidupan baik dari Al Quran,hadist dan ilmu pengetahuan lainnya,serta
melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist. Dengan cara itu
kita pun secara bertahap melakukan pembersihan jiwa,akal dan pikiran dari
pemahaman yang salah atau keliru agar bisa kembali kepada Nya dengan hati yang
tenang dan bukan dengan ketakutan.
Manusia yang tidak mengalami
ketenangan jiwa mempengaruhi akal,pikiran dan badannya. Akalnya menjadi buntu
karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan apabila timbul
kegalauan,pikirannya lalu mempengaruhi emosi yang diwujudkan dalam
kemarahan,kecemasan dan ketakutan tanpa alas an yang jelas. Badannya pun
kemudian bereaksi yang ditandai dengan cepatnya peredaran darah akibat jantung
yg berdebar, maka timbullah penyakit tubuh seperti hipertensi,diabetes dan
gangguan jantung yang akhirnya mengakibatkan stroke atau kematian jika keadaan
seperti itu terlalu sering terjadi tanpa ada usaha dari diri sendiri untuk
mengatasinya.
Jiwa,akal dan pikiran akan berkembang
secara bertahap mengikuti usia,pengaruh lingkungan dan pengala- man manusianya.
Manusia akan mencapai titik kesadaran jika pengaruh-pengaruh dan informasi
positif terus mengisi pemikirannya tanpa harus mempertahankan pandangan
sebelumnya yang mungkin salah atau keliru. Namun jika pandangan sebelumnya itu
ia pertahankan mati-matian,maka tidak berubahlah kepribadian dan pola
perilakunya yang selalu membela ego dan hawa nafsu, karena peandangan
sebelumnya telah mendarah daging sehingga sulit untuk melepaskan ikatannya.
Firman
Allah:
“ Apabila dikatakan kepada mereka: “
Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul ,”mereka
menjawab:“ Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak- bapak kami
mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula)
mendapat petunjuk?”(QS Al Maidah 104)
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta,tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”(QS Al Hajj 46)
Sebagaimana diketahui
keyakinan,pemahaman,pemikiran dan pandangan hidup atau ideologi, jika sudah
menjadi kebiasaan lalu mendarah daging pada diri manusia, sulitlah baginya
untuk merubah apa yang telah dipercayai dan diyakininya. Apabila yang diyakini
itu jauh dari tuntunan Islam maka terlihatlah pola perilaku yang selalu
memperturutkan hawa nafsu dan ego atau berlebih-lebihan dalam masalah agama,
yang berakibat pada gangguan perasaan dan perilakuseperti cemas,antisosial,takut,marah,egois,curiga,iri,dengki,pendendam, hasut,sombong dan merasa
paling suci yang mana kadar gangguan ini sangat berlebihan atau abnormal. Kita
bisa melihat salah satu contoh tentang orang-orang yang memiliki amalan jin
seperti mempunyai benda keramat yang berbentuk keris,batu akik,jimat,rajah dsb.
Amalan yang seperti ini akan menyiksa diri apabila tidak dile- paskan, apalagi
jika menjelang sakaratul maut yang disebabkan oleh tidak adanya orang yang
ingin mewarisi amalannya. Maka dari itu berhati-hatilah dalam menuntut ilmu karena
ilmu itu akan membentuk sikap dan peri-laku kita, untuk itu berpeganglah hanya
kepada Al Quran dan Hadist sebagai pedoman dalam menuntut ilmu.